Recents in Beach

Cerpen Peterpan " Tak Bisakah "

#CerpenPeterpan - Tak Bisa Kah (kau
menungguku)

“Wisnu, kamu bilang, kamu akan ninggalin
dia?”
Ririn menangis melihat Wisnu tertunduk diam,
Wisnu tak jua mengeluarkan sepatah kata.
Ririn menarik nafas panjang dan memejamkan
mata sejenak, memeluk seorang lelaki yang
sangat ia cintai, erat, sangat erat sambil
terisak. Lelaki itu tetap terdiam, membalas
pelukan Ririn namun tak jua mengeluarkan
sepatah kata.

“Pagi, Sayang..” Sapaku saat menerima
telepon dari perempuan yang sangat ku cintai.
“Pagi, Sayang.. baru bangun? Mentang-
mentang libur..” jawab perempuan bersuara
dewasa dengan mesra.
“Aku gak libur hari ini, ada bimbingan,
sebentar lagi skripsi aku kelar.. Seneng kan
dengarnya?”
“Iya, kelarin skripsi kamu ya, aku nanti mau ke
RS. Tanteku sakit dari semalam, aku mau
temenin dia check up”
“Sakit apa tante Mirna?”
“Gak tau, sepertinya serius, sudah seminggu
dia ngeluh kondisinya drop, aku takut kenapa-
kenapa”
“Hey.. jangan ngomong gitu ah, tante Mirna
pasti akan baik-baik aja” jawabku mencoba
menenangkan Adel yang terlihat panik dan
sedih dari caranya menjawab.
“Iya, semoga semuanya baik-baik aja. Hari ini
aku yang hubungin kamu duluan ya..”
Aku tau sekali, tiap kali Adel berkata dia yang
akan menghubungiku duluan, artinya hari ini
dia akan seharian dengan tunangannya.
“Iya” jawabku pelan, tersenyum dan menekan
tombol merah di Hpku selagi Adel berkata “I
love you”.

“Nu! Wisnu!…” suara sahabat baikku
terdengar dari kejauhan, selagi aku turun dari
BMW hitam kado ulang tahun dari papaku
Oktober lalu.
“…Ajib, juragan.. gimana Ririn? Kemarin jadi
ketemu kan? Cantik kan? Ririn asik anaknya,
seumuran sama kita, tapi dia udah lulus dan
kerja, pinter anaknya” Bagas langsung
menyerbu dengan pertanyaan mengenai Ririn,
perempuan yang kemarin sore akhirnya
kutemui setelah tiga bulan kami berkomunikasi
hanya melalui telepon dan BBM.
Ririn cantik, pintar, dewasa, aku suka dengan
dia, tipe perempuan yang gak ngerepotin, tapi
jika aku harus sampai menunggu tiga bulan
untuk sekedar bertemu dengan perempuan
semenarik itu, pasti ini semua karena hatiku
yang tak jua mau berpindah dan masih terus
berharap akan ada keajaiban antara aku dan
Adel.
“Cantk, Sob. Asik lagi anaknya, Cuma
kayaknya dia kemarin masih rada jaim deh..”
jawabku ke Bagas.
“Ya, iyalah grogi ketemu cowok ganteng kayak
lo, sobby Wisnu Putera..” Bagas meledekku
sambil menepuk punggungku.

“Wisnu..” layar Hpku menerima pesan singkat
dari Ririn di BBM.
“Ya..” Jawabku.
“Lagi apa?”
“Lagi ngerokok di kampus, nunggu dosen nih..
Mau bimbingan”
“Oh, Okay. Selamat bimbingan. :)”
“Iya, terima kasih.. Eh, nanti sore mau
kemana? Aku mau makan sate nih, mau
nemenin?”
“Gak kemana-mana, makan sate di mana?”
“Kamu tau di mana tempat makan sate yang
enak? Ajak aku ke sana”
“Hmmm, bentar.. Ah, iya, ada nih, di deket
rumahku, kamu kemari aja”
“Okey, kita ketemu di tempat kemarin aku
ngaterin kamu ya”
“Iya, see you :*”
Hmmm, apa ini? Kok Ririn pake ngasih emot
ciun segala.
“Iya, nanti aku jemput ya :)”

Sudah jam 7 malam, dan Adel belum juga
menghubungiku. Baiklah, ke rumah Ririn aja.
Ucapku di dalam hati sambil mengarahkan
mobilku ke Jakarta bagian timur.
“Hey, cantik” sapaku pertama kali saat melihat
Ririn persis di tempat kemarin aku
mengantarnya. Dia terlihat makin cantik hari
ini, memakai terusan selutut berwarna hitam
dengan rambut panjangnya yang diurai.
Ririn tersenyum menanggapi sapaanku dan
segera memasuki mobilku.
“Hai, capek ya? Gimana bimbingannya?”
“Biasa aja, ada revisian lagi, pokoknya
targetku tahun ini kelar” jawabku sambil
tersenyum.
“Iya, aku yakin kamu bisa kok”
Layar Hpku menyala, terlihat nama Adel
muncul, dia menelponku, akhirnya.
Aku menghentikan mobilku ke pinggir,
menjawab telepon Adel sambil memberikan
isyarat ‘diam’ ke Ririn. Raut wajah Ririn terlihat
murung melihatku keluar dari mobil untuk
menerima telepon.
“Ya, sayang..” jawabku.
“Tante Mirna harus dirawat, aku sedih banget,
ini aku pulang sebentar ambil baju dan
keperluan lainnya, aku menginap di rumah
sakit malam ini” jawab Adel dengan suara
terisak.
“Hey, kamu gak apa? Ada yang nemenin kamu
di RS? Aku ke sana ya? Nemenin kamu.”
“Jangan, gak perlu. Ada Rama di sini, Rama
juga ikut menginap di RS. Aku cuma mau
ngabarin, malam ini kamu jangan hubungin aku
dulu, besok juga biar aku yang hubungin kamu
duluan. Aku harus balik lagi ke RS, Rama
nunggu di mobil. I love u, sayang”
Aku terdiam, telepon pun Adel putus tanpa
peduli aku menjawab “I love you too” di sini, di
dalam hatiku yang teriris tiap kali mendengar
nama tunangannya tersebut dari mulut
perempuan yang paling aku cintai.
Aku kembali masuk ke mobil, Ririn membalas
senyumku dengan malas sambil memainkan
telepon genggamnya. Aku diam, Ririn
memberitahu jalan menuju tempat sate yang
kita tuju, sesekali aku mengelus rambutnya
yang panjang.
Sesampainya di tempat makan, aku banyak
diam, sesekali tersenyum menanggapi cerita
Ririn yang semangat bercerita tentang anak-
anak kecil di tempatnya mengajar. Pikiranku
melayang membayangkan Adel yang malam ini
menghabiskan malam dengan tunangannya.
Membayangkan tunangannya menenangkan
perempuan yang sangat aku cintai panik
karena tante yang merawatnya sedari kecil
sakit.

“Hey, makasih ya udah nemenin aku makan”
ucapku sesampainya di depan rumah Ririn
saat mengantarnya pulang.
“Iya, sama-sama. Kamu jangan murung terus,
konsentrasi ke skripsi aja, biar cepat kelar”
ucapnya sambil melepaskan sitbelt.
Aku meraih tangannya, menariknya mendekat
dan mencium bibirnya, rambut Ririn harum,
ciumannya pun begitu lembut. Tuhan, tolong
buat aku jatuh cinta dengan perempuan ini
secepatnya. Ucapku di dalam hati sambil
mencium Ririn dengan lembut. Aku
melepaskan ciuman dengan perlahan, Ririn
tersenyum, mengecup keningku lalu keluar dari
mobil, aku menatapnya, melihatnya terus
tersenyum hingga memasuki pagar rumahnya.
Aku mengarahkan mobilku ke arah rumah
dengan pikiran penuh, Adel, Ririn, skripsi,
Rama.

Sudah sebulan tidak ada kabar dari Adel, aku
pun tidak berani menghubunginya duluan, aku
takut dia marah seperti setahun lalu aku tidak
menuruti perkataannya untuk menunggu ‘dia
yang akan menghubungiku duluan’ dan
kejadian itu sempat membuat Adel menghilang
dari hidupku selama tiga bulan. Aku tidak akan
dengan bodoh mengulangi kesalahan yang
sama.
“Hay, ganteng..” sapaan Ririn membuyarkan
lamunanku. Sejak kejadian malam ini, kami jadi
makin sering ketemu dan makin dekat.
“Hay, cantik.. gimana kerjaan hari ini?”
jawabku.
“Seperti biasa, udah lama ya nunggunya?”
“Nggak apa, yang penting sekarang kamu
udah dateng” aku mengecup keningnya.
Ririn sungguh perempuan yang cantik, tapi
entah kenapa hatiku sepenuhnya bertekuk
lutut pada Adel, ia tidak membiarkan
perempuan manapun masuk dan mengusir
Adel, termasuk Ririn. Tapi saat ini aku sangat
butuh Ririn, aku nyaman berada di
sampingnya.
“Gak nyangka ya, kita sudah tiga bulan kenal,
yah meski baru sebulan ini aja sih kita sering
jalan” ucap Ririn.
Aku tersenyum.
“Kamu mau pesan apa?” jawabku mencoba
mengalihkan pertanyaan Ririn, dan sepertinya
dia menyadari hal itu.
Aku dan Ririn sudah seperti sepasang
kekasih, aku selalu menggandeng tangannya
tiap kali kami berjalan di tempat ramai, aku
suka melihatnya tersenyum. Aku suka
membuat Ririn tersenyum, aku bahagia bisa
membuatnya tersenyum lebih tepatnya.

“Jadi, kita mau nonton apa?” tanya Ririn saat
kita sampai di depan bioskop, masih di mall
yang sama tempat kami makan tadi.
“Terserah kamu, cantik. Kamu mau nonton
apa? Katanya mau nonton film korea?”
jawabku yang dijawab dengan senyum lebar
milik perempuan yang sehari-harinya mengajar
di sebuah sekolah kanak-kanak.
“Bener gak apa nonton film Korea? Emang
kamu suka?”
“Asal kamu suka dan seneng nontonnya, aku
suka” aku menyentuh hidungnya yang munggil.
Dia tersenyum gembira dan melayangkan
kecupan di pipiku, lalu menarikku mengantri
tiket film romantis Korea yang sejak dua hari
lalu dia selalu bahas ingin menontonnya.

“Aku ke toilet dulu ya, toilet bioskop penuh,
aku ke toilet luar aja” ucapku.
“Ikut, aku juga mau pipis”
“Yuk..” jawabku sambil tersenyum.
Seperti biasa, aku menggenggam tangan Ririn,
berjalan sambil mengobrol menuju toilet.
Langkahku terhenti, Adel.. ada Adel 5 meter di
depan kami. Adel bersama salah satu teman
perempuannya. Adel terlihat pucat, dia terus
menatapku, akupun membalas tatapnya, di
sampingku ada perempuan yang masih
bercerita dengan nada suara bahagia.
Perlahan aku melepas genggaman tanganku
ke Ririn. Adel membalikkan badan, memilih
belok ke kanannya daripada berpapasan
denganku.

“Ya, Tuhan.. apa Adel akan marah melihatku
jalan dengan Ririn?” ucapku di dalam hati saat
sampai ke toilet. Hpku bergetar, nama Adel
muncul seolah penuh amarah. Aku segera
menjawab, aku sangat rindu mendengar
suaranya.
“Bisa-bisanya kamu..” ucapnya pertama kali.
“…bisa-bisanya kamu berduaan dengan
perempuan lain pas aku di sini lagi sedih, tante
Mirna sakit. Kamu tau kan tante Mirna itu satu-
satunya keluarga dekatku sejak kedua orang
tuaku meninggal? Aku pikir kamu beneran
cinta sama aku”
“Sayang, kamu dengerin aku dulu, ini semua
gak seperti apa yang kamu liat, aku cinta sama
kamu, aku Cuma cinta kamu”
“Udah, aku gak percaya lagi sama kamu.
Sana, kamu lanjutin aja hubungan kamu
dengan perempuan itu”
“Sayang.. gak sayang, sayang.. sayang..” Adel
menutup teleponnya.
“Fuck! Shit!” Aku menendang tempat sampah
di dekatku, semua orang di dalam toilet
memperhatikanku.
Kenapa bisa ketemu Adel sih? Dan kemana
aja dia? Shit.

Aku keluar dari toilet, kulihat Ririn
menungguku sambil memainkan telepon
genggamnya seperti biasa, kami kembali
berjalan menuju bioskop, kali ini dia yang
bergelayut di lenganku. Pikiranku kacau, hatiku
sakit, entah apa yang harus aku lakukan
setelah ini, Adel..

“Kamu masih berhubungan sama dia?”
pertanyaan Ririn membuyarkan lamunanku
memandang jalanan Jakarta yang kian sepi di
malam hari.
“ Maksudnya?” jawabku spontan.
“Perempuan yang sempat menjadikanmu
selingkuhan, yang pernah kamu ceritain ke aku
dulu di awal kita dekat”
“Nggak, udah sebulan, sejak kita sering jalan,
aku udah gak ada komunikasi sama dia”
jawabku sambil mengelus rambutnya, Ririn
tersenyum.
“Hmmm, lalu.. bagaimana dengan kita?”
“Masudnya?”
“Iya, kita.. we almost do everything that lover
do, I think.. tapi aku masih belum jelas, kita ini
apa”
“Ririn..” aku menghelakan nafas panjang.
“..kita terlalu cepat bahas ini, aku nyaman
sama kamu, tapi aku gak bisa kalau sekarang,
sebentar lagi skripsiku selesai. Aku mau
konsen dulu ngerjain skripsi, habis itu kita
bahas lagi ya”
Ririn terdiam, aku mengecup keningnya.
“Aku gak mau ada yang berubah di anatara
kita, aku nyaman sama kamu. Sungguh. Kamu
mau kan nungguin aku?” shit! Semua kata-
kataku, aku terdengar seperti Adel saat
menenangkanku setahun lalu, saat aku
meminta kejelasan hubungan kami ke dia.
Dan seperti halnya aku ke Adel, Ririn pun
tersenyum, mengangguk seraya menyetujui
permintaanku, menungguku. Entah, setan
mana yang merasukiku hingga aku menjadikan
Ririn sebagai pelampiasan kekesalanku atas
perlakuan Adel. Aku membentuk diriku yang
lemah di mata Adel ke Ririn. Aku menjadikan
Ririn ada dan merasakan apa yang aku
rasakan atas perbuatan Adel.
“Kamu mau kan nunggu aku?” tanyaku kembali
ke Ririn.
“Iya, aku akan nungguin kamu. Nunggu urusan
kamu beres” dia mengecup tanganku dengan
lembut, aku mengecup keningnya. Hatiku sakit,
perih dan menangis. Entah atas perlakuan
Adel atau perlakuanku ke Ririn.

Tante Mirna meninggal, untuk sekedar
mengucapkan belasungkawa pun aku tidak
berani melangkahkan kaki ke rumah Adel. Aku
tidak ingin membuatnya marah dengan
kehadiaranku. SMSnya terakhir sebulan lalu,
sekedar mengabarkan tentang tentang
meninggalnya tante Mirna. Setelah itu dia
menghilang lagi, sudah dua bulan sejak
kejadian di mall waktu itu aku tak melihatnya.
Hubunganku dengan Ririn kian baik, Ririn
sungguh sosok perempuan idaman lelaki
manapun, cantik, pintar, sudah bekerja dan
pengertian.
Seminggu lagi sidang skripsiku, seperti yang
sudah aku janjikan pada Adel, aku akan
segera bekerja dan menggumpulkan uang
untuk menikahinya. Dia berjanji akan
memutuskan tunangannya jika aku
menyelesaikan skripsi, mencari kerja dan
mengumpulkan uang untuk membangun rumah
tangga dengannya.
Adel 5 tahun lebih tua dariku, usiaku kini 24
tahun, Adel bilang, dia ingin menikah sebelum
usianya 30 tahun. Aku sanggup menikahinya,
harta orang tuaku cukup untuk membiayai
kami, tapi Adel menolak, dia hanya ingin
menikahi lelaki mandiri yang berhasil karena
keringatnya sendiri. Aku memintanya
menunggu, aku akan buktikan aku bisa
menjadi lelaki yang dia impikan. Seminggu lagi,
Del.. seminggu lagi, kamu janji akan
memutuskan tunanganmu. Aku makin
tersenyum menyambut sidang skripsiku.

“Mas Wisnu, tadi Hpnya nyala tuh. Bibi kira
mas Wisnu di mana, lagi di toilet ternyata” bibi
memberikan Hpku yang baru saja 3x
mendapatkan panggilan. Adel..
“Ada apa?” aku mengirimkan pesan singkat
kepadanya.
“Aku telepon kamu ya” Jawabnya, dan tidak
sampai satu menit Hpku kembali menyala,
nama Adelia Mita Maharani muncul di layar
Hpku. Senyumku berkembang, hatiku terasa
riang mendengar suaranya lagi setelah sekian
lama.
“Adel.. kamu apa kabar? Kemana aja?”
“Aku baik-baik aja, kamu apa kabar?”
“Minggu depan aku sidang skripsi”
“Bagus dong, aku senang dengernya. Aku
mau ketemu, hari ini jam 5 sore di tempat biasa
bisa?”
“Bisa.” Jawabku singkat.

“Wisnu, kamu jadi jemput aku?” BBM masuk
dari Ririn.
“Maaf, papa mendadak ngajak jalan, aku gak
bisa nolak. Maafin aku ya, sekali aja aku gak
nepatin janji” ah, aku berbohong ke Ririn.
“Iya, gak apa. Jarang-jarangkan kamu bisa
pergi sama papa kamu. Have fun ya..”
“There’s no fUn without U, dear..” jawabku.
“Guombaaaal…”
“Hehehe, kamu pulangnya hati-hati ya.. :*”
“Iya, Sayang.. :)” jawab Ririn.

Akhirnya, akhirnya aku bisa bertemu lagi sama
Adel, ya Tuhan… seperti apa rupanya
sekarang..
“Hey..” sapa suara yang sangat aku rindukan.
“Adel..” aku langsung memeluknya, memegang
wajah cantiknya yang kelihatan pucat, kembali
memeluknya dengan erat. Aku sungguh
mencintai wanita ini.
Adel melepaskan pelukkan, tersenyum dan
menyuruhku duduk. Di kafe ini, kafe yang
menjadi saksi hubungan diam-diam kami,
tempat kami lari dari segala kepenatan yang
ada. Lari dari dunia yang tidak bisa menerima
aku dan dia bersatu.
“Kamu pucet, Del.. sehat?”
“Aku baik-baik aja, kamu gimana? Minggu
depan udah sidang skripsi?”
“Iya, Del.. nama kamu aku pinjem ya, buat
ditaro di lembar ucapan terima kasih, kamu
yang selama ini nyemangatin aku. Kalau bukan
karena kamu, mungkin aku bakal makin males
ngerjain skripsi. Hehehe..” Adel tersenyum
mendengar ucapanku.
“Minggu depan aku nikah.” Ucapan Adel bagai
petir yang menyambar hatiku, patah, remuk,
hancur aku mendengar kalimat pendek yang
terlontar dari bibir yang selama ini membuatku
teduh dengan kecupannya.
“Nikah? Tapi kenapa buru-buru? Kenapa gak
nunggu aku? Kamu janji bakal nunggu aku
lulus, nemenin aku kerja dan ngumpulin uang
buat kita?”
“Gak bisa, sejak tante Mirna meninggal,
keluarga besarku makin mendesakku menikah.
Kalau aku nunggu kamu, berapa tahun lagi
aku harus nikah? Ngumpulin uang gak
segampang itu, Nu!”
“Tapi papa mamaku bisa menghidupi kita,
kamu bersabarlah sebentar, sayang..”
“Umur aku berapa, Nu? Tahun depan aku 30
tahun, sedang kamu baru beberapa bulan
bekerja, bisa kamu nikahin aku tepat waktu?
Bisa kamu menuhin impian aku untuk menikah
sebelum usiaku 30 tahun?”
“Tapi kamu udah janji, janji bakal nungguin
aku. Sekarang tinggal sebentar lagi, sebentar
lagi aku lulus, aku akan kerja dan ngelamar
kamu”
“Gak perlu, aku gak mau negerusak masa
muda kamu dengan nikah muda, aku tau lelaki
seumuran kamu memang sedang ingin-
inginnya menikah, tapi coba nanti saat kamu
sadar kamu masih muda dan terlalu dini
menikah, sedang aku di sampingmu makin tua.
Aku gak bisa nunggu kamu.”
“Kamu gak bisa kayak gini, Del.. bagaimana
dengan mimpi kita? Bagaimana dengan janjimu
untuk ninggalin tunangan kamu pas aku lulus?
Sekarang semuanya udah di depan mata,
De..”
“Maaf.. Maaf.. aku gak bisa. Maaf” Adel berdiri
dan membalikkan badan meninggalkanku,
suaranya terisak saat megucapkan maaf.
Badanku lemas, serasa semua tulangku
tercabut, pikiranku kacau. Aku terdiam, semua
tentang aku dan Adel seolah berputar kembali,
di sini, di tempat ini semuanya terjadi.
“Kenapa kamu gak bisa nunggu aku sebentar
lagi aja, Del..” ucapku lirih.

“Aku gak tau apa yang terjadi sama kamu,
kamu gak jawab telepon dan semua pesanku.
Aku ada buat salah? Kamu baik-baik aja?”
BBM lagi-lagi masuk dari Ririn. Sudah hampir
seminggu aku menghindar darinya, aku tidak
ingin dia melihatku dalam keadaan kacau
seperti ini. Aku suka Ririn, aku tidak ingin Ririn
terluka, tapi di sini, aku mencintai Adel, dan
dengan hal itupun aku secara sadar melukai
Ririn.
“Besok kamu sidang skripsi, semangat ya..”
Ririn kembali mengirimkan pesan. Kali ini aku
memilih untuk menjawabnya “Iya, terima kasih
:)”.
Ririn hanya menjawab balasanku dengan
sebuah senyuman.

Sidang skripsiku berjalan lancar, dan dosen
penguji memberikan nilai A, aku dinyatakan
lulus. Aku keluar ruang sidang dengan
perasaan campur aduk, seharusnya aku
bahagia, aku melihat jam tangan, pukul 11.
Akad nikah Adel dilakukan jam 12 siang, Apa
yang harus aku lakukan.
“Selamat ya, ganteeeeeng” sebuah pelukan
mendaran di tubuhku, Ririn. Dia membawakan
seikat bunga mawar merah untukku.
“Hey, terima kasih. Kok gak bilang mau
kemari?”
“Kalau bilang namanya bukan suprise dong.
See, sekarang kamu udah lulus, dan aku tetap
di sini nunggu kamu, seperti janjiku” jawabnya
dengan senyum yang merekah. Ah, iya, aku
memintanya menungguku, menungguku lulus
untuk membahas kelanjutan hubungan kita.
Tidak, bukan Ririn, aku mau Adel. Aku harus
ke tempat Adel. Aku harus membatalkan
pernikahan mereka. Setengah dua belas, aku
harus segera mencegah perempuan yang
sangat aku cintai menikah dengan lelaki yang
salah.
“Sebentar, Rin. Aku ada perlu, nanti kita bicara
lagi” Aku berlari menuju tempat mobilku parkir,
tidak menghiraukan Ririn yang mengejarku.
Menancap gas menuju pikiranku berada, Adel.
“Hatiku bimbang namun tetap pikirkanmu,
selalu selalu dalam hatiku. Ku melangkah
sejauh apapun itu, selalu engkau di dalam
hatiku.

Ku berjalan berjalan memutar waktu,
berharap temukan sisa hatimu.
Mengertilah ku ingin engkau begitu,
mengerti kau di dalam hatiku.
Tak bisakah kau menungguku, hingga
nanti tetap menunggu. Tak bisakah kau
menuntunku, menemani dalam hidupku.
Dara kau menjadi hidupku, kemana kau
tahu isi hatiku.. tunggu sejenak aku di situ,
jalanku jalan menemukanmu. Tak bisakah
kau menungguku?”

Sial, macet! Aku tidak mungkin bisa tepat
waktu menghampiri Adel. Tolong, Tuhan..
hentikan waktu untuk kali ini saja, tolong..
bukankah aku jarang meminta padaMu? Kali
ini saja, tolong.. izinkan aku bahagia. Tolong,
Tuhan!

Aku segera memarkir mobilku, masih sekitar
50 meter lagi dari rumah Adel. Penuh, jalanan
ramai, aku berlari, kulihat jam di tanganku,
damn! Setengah satu. Aku berlari, dengan
nafas tersenggal aku berhenti tepat di depan
rumah Adel.
Mereka semua terlihat bahagia, penuh tawa
dan senyum, di wajah Adel pun aku melihat
senyum. Aku mendekat, Adel menyadari
kehadiranku, raut wajahnya berubah, dia
menggelengkan kepalanya pelan, mataku
terus tertuju padanya, matanya mulai berair,
kepalanya terus menggeleng pelan
mengisyaratkan ‘jangan’, bibir mungilnya
bergerak, aku membacanya dari jauh ‘Jangan,
aku mohon jangan’ begitulah yang kubaca.
“Wisnu!” bahuku tertarik, tangan besar
mencengram dan menarikku menjauh dari
wajah Adel.
“Nu, lo gila apa? Lo masih aja ngarepin Adel?
Gue pikir dengan jalannya lo sama Ririn lo
udah lupain Adel? Sinting lo, Nu!” Bagas,
cengkraman kuat itu milik Bagas sahabatku.
“Kenapa lo bisa di sini?” tanyaku.
“Ririn..”
“..Ririn telpon gue dan bilang lo tetiba lari
sehabis keluar dari ruang sidang, dia ngejar lo
sambil telepon gue dan minta gue jagain lo,
ngejar lo. Gue langsung ngambil motor, nyari,
ngikutin lo. Dan ternyata kemari…”
“..Gila lo ye, masih aja ngarepin perempuan
kayak gitu” ucapnya sambil menunjuk rumah
Adel dan menahanku.
“Lo tau kan? Ririn itu sahabat gue, udah gue
anggep kayak adek sendiri, dia udah sayang
banget sama lo, berharap dan nungguin lo
seperti yang lo minta, dan lo malah di sini?!”
“Gue gak bisa bohongin hatio gue, Gas.. gue
cuma cinta sama Adel”
“Lo liat sekarang? Apa Adel cinta sama lo?
Kalau dia cinta sama lo, dia gak akan ninggalin
lo kayak sampah gini aja dengan nikah sama
orang lain! Sadar dong, mau sampe kapan lo
dibutain kayak gitu? Lo laki bukan sih?!”
“Maksud lo?”
“Harga diri lo udah diinjek-injek sama dia sejak
lo menyetujui mau jadi selingkuhannya,
nunggu dia, percaya aja dia mau ninggalin
tunangannya demi lo? Harga diri lo mana?
Kalau lo udah gak bisa nyelamatin hati,
setidaknya lo selametin tuh harga diri lo. Lo
laki, Nu..”
“Emang laki-laki gak boleh jatuh cinta? Emang
laki-laki gak boleh setia nunggu? Emang laki-
laki gak boleh kebawa perasaaan dia? Emang
kenapa kalau cuma dia yang ada di hati gue,
Gas?!” aku menjawab Bagas dengan nada
emosi, emosiku pada pernikahan Adel
kuluapkan padanya.
“Boleh, Nu. Boleh! Asal ada gunanya. Asal
segala tai kucing yang baru aja lo utarain ke
gue cuma nyakitin diri lo sendiri doang, gak
nyakitin orang lain! Gak nyakitin Ririn..”
Aku terdiam, teringat Ririn yang dari kemarin
mencari dan khawatir dengan keadaanku.
Ririn yang tadi menyambutku dengan seikat
mawar merah tersenyum menungguku di
depan ruang sidang. Menungguku.
“Shit!” ucapku.
“Sekarang buat apa lagi lo masih di sini? Apa
Adel bakal batalin pernikahannya? Apa Adel
sekarang setelah lo datang dia lari ke arah lo?
Nggak kan.. Ayo sekarang pulang. Ambil lagi
harga diri lo, selametin dia biar gak keinjek-
injek lagi.” Bagas menuntunku masuk ke mobil,
dia meninggalkan motornya dan mengantarku
pulang.

“Ririn tuh..” ucap Bagas membuyarkan
lamunanku, sedari tadi aku menunduk,
memikirkan ini dan itu, segala hal yang baru
saja terjadi dengan cepat. Adel pergi,
meninggalkanku, mengkhianati janjinya, namun
tak jua pergi dari hatiku.
Ririn sudah ada di kursi teras rumahku, papa
dan mama masih di luar kota karena bisnisnya,
hanya ada bibi yang baru saja mengantarkan
minuman untuk Ririn.
Ririn berdiri melihatku turun dari mobil, Bagas
ikut turun, lalu pamit mengambil motornya di
tempat Adel tadi.

Aku duduk di kursi satunya. Ririn melihatku
dengan iba, aku tau dia tau apa yang baru
saja aku alami.
“Wisnu, kamu bilang, kamu akan ninggalin
dia?”
Ririn menangis melihatku tertunduk diam, aku
tak jua mengeluarkan sepatah kata.
Ririn menarik nafas panjang dan memejamkan
mata sejenak, memelukku yang sangat ia
cintai, erat, sangat erat sambil terisak. Aku
tetap terdiam, membalas pelukan Ririn namun
tak jua mengeluarkan sepatah kata.
“Aku pikir, aku berhasil menggantikan
posisinya di hati kamu, Nu” Ririn perlahan
melepas pelukkannya.
“Aku gak pantes buat kamu, Rin” ucapku.
“Iya, kamu memang gak pantes buat aku.
Sama kayak perempuan itu yang gak pantes
buat kamu, tapi kamu terus nyimpen dia di hati
kamu, sampai saat terakhir, sampai semua
kemungkinan udah gak ada lagi yang tersisa”
Aku menatap wajah cantiknya, air mata
membasahi pipinya. Aku mengelap pipinya
yang membasah.
“Kamu jangan nangis, aku gak pantes kamu
nangisin”
“Nu, pernah kah aku sedikit aja ada di hati
kamu? Sedikit aja ada di pikiran kamu?”
Aku tertunduk, entah apa yang harus aku
jawab, selama ini hati dan pikiranku didominasi
oleh Adel, segala janjinya, segala cinta yang
selama ini kami banggakan dengan sembunyi-
sembunyi.
Ririn menangis, makin terdengar suara
tangisan yang sedari tadi dia tahan untuk tidak
mengeluarkan suara.
“Aku gak pantes buat kamu, Rin” aku
memeluknya.
Ririn tidak mengeluarkan sepatah kata, dia
membalas pelukkanku makin erat sambil
terisak.
“Aku gak pantes buat kamu, Rin. Aku gak
pantes.” Ucapku berulang sambil memeluknya
dan ikut mengeluarkan air mata.
“Aku gak pantes buat kamu” ucapku terus di
dalam hati sambil memeluk perempuan yang
memelukku makin erat, memeluk dengan
kekecewaan kami masing-masing yang
terdalam.
“Iya, Aku gak pantes buat kamu” ucap Ririn di
dalam pelukanku.
—end—

Posting Komentar

0 Komentar