Sahabat NOAH

Breaking News
Loading...
Tuesday, November 13, 2012

Cerpen Peterpan " Di Atas Normal "

5:36:00 PM
Inspired from : Di Atas Normal - Peterpan

"Siapa sih yang ga punya rahasia dalam
hidupnya? Kamu? Aku? Siapapun pasti
punya, sekecil apapun, termasuk orang
tuamu!"
"Kamu bukan aku, ga akan sekedipan
matamu merasakan jadi aku, apa pernah
kamu bayangkan 22 tahun hidup tanpa
tahu siapa orang tuamu? Pernah?!"
"Oke! Terus mau kamu apa? Ngacungin
pisau ke Ibu panti dan maksa mereka
ngasih tahu kamu, sesuatu yang bahkan
mereka ga pernah tahu?! Please Mia,
please, kamu jauh lebih beruntung
daripada siapapun yang kamu kenal!"
"Termasuk kamu? Ohh come on Re!"
"Aku mencoba menganggap keras
kepalamu itu sebagai kelebihan yang bikin
aku betah jadi sahabatmu, Dremia!"
Aku diam. Memandangi Relysta.
Memandangi punggung yang sering
kusandari saat lelah berlarian di halaman
panti, rumah yang kami tempati sejak kecil
itu menjauh. Menghela napas panjang dan
mulai mengusap air mataku sendiri.
Re ga akan pernah ngerti. Aku ga
seberuntung apa yang ia katakan.
Setidaknya jika dibandingkan dengan
dirinya. Hanya mencicipi 16 tahun sebagai
anak panti dan merayakan ulang tahun
yang ke 17 di Hotel Mulia, hotelnya orang
gedongan karena akhirnya ditemukan
orangtua kandungnya. Membuat hidupnya
berbalik 180 derajat.
Dan aku? Aku masih terjebak dengan
rutinitas panti hingga usiaku sekarang, 22
tahun, tak tahu apa-apa soal siapa orang
tuaku selain hanya tahu ibu meninggal
dunia sehari setelah meminta ibu Meta
merawatku, orang yang sama selama 22
tahun seterusnya kupanggil ibu hingga hari
ini. Bangun jam setengah 5 pagi,
membantu menyiapkan sarapan, mencuci
pakaian, membereskan rumah, lalu
berangkat ke kantor berjejalan dengan
penumpang lainnya di dalam mikrolet,
kujalani 1 tahun lebih, tahun-tahun
sebelumnya hampir dengan rutinitas yang
sama, ga.. Re ga akan ngerti ini, sebelum
tamat SMK saja ia sudah menikmati jok
mobil papanya yang empuk, tak merasa
kepanasan, tak pernah kehujanan, dan tak
pernah kelelahan mengantri mikrolet, atau
bus. Meskipun akhirnya ia tak bisa bebas
ke mana-mana sepertiku setelahnya. Jadi
wajar saja ia berpikir usahaku menemukan
orang tua kandung adalah gila!
Aku memang mulai gila, setidaknya
memikirkan tak punya ayah sebagai wali di
pernikahanku nanti adalah mimpi buruk
bagi perempuan manapun.
Aku ingin hidup normal juga Re, sama
seperti yang kamu dapatkan sekarang,
lagipula tak salah rasanya aku berharap,
siapa tahu ayahku masih hidup, dan ada di
suatu tempat. Yang hanya ibu kandungku
tahu letaknya.
*****
"Mia, aku sudah menemukan cara mudah
untuk sekedar tahu siapa orang tua
kandungmu, dan tebak, Reza juga setuju!"
"Reza? Kamu sudah ngasih tahu semua
ke dia?"
"Iya Mi, aku pikir sebagai calon suamimu ia
berhak tahu apapun rencanamu, termasuk
masalahmu. Toh kalian akan berbagi
apapun setelah menikah nanti. Iya kan?!
Aku diam, pelan-pelan mengangguk
mengiyakan. Re benar. Reza harus tahu
harapan terbesarku selain menikah dan
menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami
kelak.
"Sekarang kasih tahu aku apa
rencanamu..!! " Kataku terburu-buru.
Kemudian Re menceritakan bagaimana
cara orang tuanya berhasil menemukannya
di panti asuhan ini yang letaknya terpencil
di perkampungan penduduk. Hanya
berbekal popok bayimu, mereka
mendapatkan info dari seorang
paranormal, orang pintar, cenayang, ahh
apalah namanya. Yang jelas ia tahu kalau
anaknya disembunyikan orang yang
menculiknya di panti ini. Bahkan ia dengan
tepat menyebutkan bahwa nama bayi
mereka dimulai dengan huruf "R" .
Aku terbelalak, dan tak lama kemudian
mataku mengerjap penuh harapan. Kalau
benar begitu, tak akan sulit menemukan
orang tuaku. Pasti!!
Aku meloncat kegirangan, memeluk Re
dengan kencang hingga ia menjerit-jerit
mengeluh sesak napas.
"God, this is not a good news, this is
Heaven! "Surga Re, ini berita dari Surga! S
U R G A !!! " Kataku masih sambil meloncat
kegirangan.
Re tersenyum. Ia mengangguk, matanya
berkaca-kaca, aku terdiam, aku tahu kaca-
kaca itu akan segera berhamburan sesaat
lagi, ahhh Re sangat sentimentil, hal kecil
saja bisa membuatnya menangis haru,
apalagi ini, sahabatnya ini, aku, akan
segera menemukan orang tuaku!!!
Wohoooo!!!! Aku menjerit kegirangan!
****
"Syaratnya sudah kamu bawa? "
Perempuan tua yang usianya kuperkirakan
hampir seabad itu menatapku dengan
matanya yang hanya sebesar lubang
kancing, tajam.
Aku mengangguk pelan, menatap
mulutnya yang ketika berbicara sesekali
meludahkan cairan berwarna kuning bata
ke mangkuk seng yang sudah berkarat.
Aku bergidik. Bertanya dalam hati, apakah
semua orang yang memiliki kemampuan
supranatural itu harus memiliki pembawaan
dan wajah yang menakutkan?
"Jangan takut, saya akan mencoba
membantumu dari sini, tapi tak banyak
yang bisa saya lakukan karna orang yang
kita cari sudah meninggal."
Aku terdiam. "Ya Tuhan, ia tahu isi hatiku.
Semoga saja ia tak tersinggung." Aku
membatin.
"Kamu sedang haid kan? Bagus! Dengan
begitu para roh akan lebih mudah kamu
temui." Katanya seraya meraih pakaian Ibu
yang aku sodorkan segera saat
menanyakan syarat yang ia minta. Pakaian
ibu kandungku, perempuan yang
membawaku ke Panti asuhan 22 tahun
yang lalu.
"Aku tak bisa menemukan siapa ayahmu,
tak ada petunjuk apa-apa dari ini." Mulut
penuh kunyahan kapur sirih itu kembali
berbicara dan sesekali jempol dan telunjuk
tangan kanannya meggosok-gosokkan
gumpalan kapur sirih yang sudah
menghitam itu di giginya.
Aku mulai merasa mual.
"Perempuan ini benar ibumu. Apa kamu
sudah siap bertemu dengannya? Dia tak
mau memberitahu apapun pada saya.
Kamu harus menemuinya sendiri." Aku
merinding, semoga saja ibuku tak
menyeramkan di sana. Karna Ibu panti
bilang ibu sangat cantik. Ya, secantik aku.
Kemudian aku mengangguk pelan, dan
sejenak kemudian menjawab, 'siap, aku
siap Nyi." Setelah menyadari paranormal
itu masih memejamkan matanya sejak tadi.
"Aku akan memagarimu dari sini, jadi saat
kamu berjalan di sana, tak ada yang bisa
menyentuh apalagi menyakitimu. Kamu
bisa berbicara atau menyentuh dan
memeluk ibumu. Tapi ingat, jangan pernah
ikut masuk ke tempat yang pintunya
berwarna merah!
Jangan! Karena sekali kamu masuk, maka
kamu tak akan bisa kembali lagi.
Dan kami terpaksa memakamkan kamu di
sini."
Baiklah kali ini aku mulai merasa takut. Aku
mulai berpikir apa akan melanjutkannya
atau tidak hal yang disebut Re sebagai hal
gila, mustahil dan di luar batas normal.
"Kamu ga harus melakukannya Mia, Reza
mau menerima kamu apa adanya.
Orangtuaku, Ibu Panti, semua tak
keberatan menjadi wali di pernikahanmu.
Keluarga Reza juga mengerti. Jangan Mia,
perasaanku ga enak. Hidup kita sudah
baik-baik saja. Sudah normal. Kamu ga
perlu mengejar hal yang ga pasti. Ga perlu
mencari tahu apapun tentang masa lalumu,
bagaimana jika apa yang kamu tahu nanti
malah akan melukaimu?
Aku takut Mia, kamu sahabatku, aku ga
bisa ngeliat kamu ngambil resiko ini." Re
menangis sesegukan sambil memelukku.
"Ga, kita sudah di sini, sudah terlanjur. Aku
harus tahu kebenarannya. Walaupun itu
akan menyakitiku. Aku ingin tahu alasan
kenapa harus hidup dan besar di panti!
Aku harus tahu sebab penderitaan dan
kesepianku hidup sebagai yatim piatu
selama 22 tahun! Jadi menemukan ibuku
dan bertanya padanya aku rasa masuk
akal, meskipun harus mengejarnya ke
akhirat sekalipun. Ibuku harus membuatku
mengerti. Setelah aku tahu alasannya, aku
akan puas." Jawabku angkuh. Re
memelukku. Aku membalas pelukannya,
erat.
"Aku sayang kamu Re, sebagai sahabat,
bahkan kalau boleh sebagai saudara yang
tak pernah akan aku miliki. Kalau sampai
batas waktunya aku tak pulang lagi, tolong
urus pemakamamku dengan layak. dan
ceritakan semua yang kamu ketahui
kepada siapapun yang bertanya."
Re mengangguk sambil terus mengusap air
matanya. "Aku sayang kamu Mia, kamu
saudaraku. dan akan selalu begitu. aku
janji akan melakukan semua yang kamu
minta. tapi aku mohon, kembalilah
secepatnya atau minimal tepat waktu, aku
mohooonnnn... janji ya...."
Aku tersenyum getir. Mengangguk. Lalu
berbaring di dipan rotan milik Nyi Rohaya,
memejamkan mata, sebelum paranormal itu
menutupi seluruh tubuhku dengan kain
kafan putih, melumuri kepalaku dengan air
perasan jeruk purut yang sudah dicampur
dengan air dingin dan bunga 7 warna.
"Ingat, waktumu tak lama, ibumu memakai
pakaian yang sama dengan yang kamu
bawa tadi, jika ia menangis, itu artinya
waktumu akan segera habis, segera
berbaliklah darinya, tutup matamu dan
jangan sekali-sekali menoleh ke belakang
lagi, ikuti suara saya yang memanggilmu
dari sini. sekarang pejamkan matamu dan
berjalanlah lurus ke depan nanti." Aku
menganggukkan kepala, menurut.
***************
Aku memejamkan mata dan mendengar
Nyi Rohaya mulai membacakan entah
mantra apa berulang-ulang sambil sesekali
menyebut namaku. Lalu bergumam,
berdendang, dan makin lama terdengar
makin bising di telinga. Mataku mulai perih,
mungkin jeruk purut itu yang jadi
penyebab, lalu telingaku terasa
berdengung, refleks aku menutup telinga,
dan seketika aku merasa sunyi dan sangat
dingin, lalu pelan-pelan membuka mataku
dan seketika melangkah mundur, "tempat
apa ini?" batinku sambil melihat
sekelilingku yang sangat asing.
Aku melangkah pelan, kanan dan kiriku
gelap, berkabut, lalu aku ingat untuk terus
maju, hanya dalam hitungan 4 langkah aku
mendengar suara di depan sana, "Sini nak,
sini... Yang kamu cari ada di sini..."
aku memicingkan mata mencoba
memperjelas pandangan, melangkah
mendekati asal suara perlahan, aku
menemukannya...!
"Ibu, aku kangen." Jeritku penuh haru
setelah memastikan perempuan itu
memakai pakaian yang sama dengan yang
aku bawa ke rumah Nyi Rohaya.
Pelukannya hangat Re, pelukan seorang
ibu yang lama aku rindukan.
Perempuan itu mengusap rambutku dan
menghapus airmataku yang entah sejak
kapan menetes. ia menggandeng
tanganku. lalu aku seperti dibawa ke suatu
tempat dan melihat apa yang terjadi di
dunia, iya di dunia semasa ia hidup.
semuanya terjadi di depan mataku, seperti
layar televisi raksasa dengan gambar yang
sangat jelas, melebihi film 3D yang aku
tonton menggunakan kacamata khusus di
bioskop, tak ada yang tak jelas, bahkan
kabut yang sempat membuat mataku perih
saat baru sampai tak ada sedikitpun.
Aku mulai mengerti. Pelan-pelan. Aku
mulai memahami. Perempuan yang
kupanggil ibu ini dihamili lelaki bajingan
yang menolak tanggung jawab untuk
dipanggil ayah oleh anaknya nanti.
Pria beristri dan mata keranjang itu,
berbohong, ia tak menepati janji untuk
meninggalkan istrinya. bahkan setelah
istrinya melahirkan pun ia tetap berkilah
dan mencoba melepaskan diri dari
tanggung jawab.
Kemudian apa yang aku lihat membuat
tubuhku gemetaran. Ibuku yang sedang
hamil mengambil bayi mereka. pulang ke
rumahnya yang sempit di daerah kumuh
tengah kota. Melihatnya melahirkan hanya
dibantu dukun beranak kampung. Aku
melihat diriku sendiri dilahirkan ibuku. Aku
menangis, terharu.
Tapi apa yang kulihat selanjutnya membuat
tubuhku menggigil tak karuan.
Tanganku dingin, lebih dingin dari ruang-
yang-entah-apa-namanya-ini. Aku merasa
kakiku lemas, aku tersungkur, dan kali ini
tangisanku bukanlah karena haru. Tapi
marah, benci, aku mulai mencaci,
mengeluarkan sumpah serapah kepada
perempuan yang tadinya akan kupanggil
Ibu. Aku merasa sangat dingin dan
napasku makin cepat. Tepatnya terengah-
engah, entah karena amarah yang hampir
meledak atau menyadari aku pergi sejauh
ini hanya untuk menghancurkan hatiku
sendiri!
Di depan mataku, aku melihat ia menukar
popok yang terbuat dari kain katun dan
indah milik bayi yang ia culik dengan popok
sederhana milik bayinya sendiri.
Memindahkan gelang, kalung, juga gelang
kakinya. menciumi bayinya. Menitipkan
bayi yang ia culik kepada tetangganya,
membawa bayinya ke panti asuhan dan
meninggalkannya diam-diam di depan pintu
panti asuhan dan beberapa hari kemudian
membaya bayi yang ia culik ke panti
asuhan yang sama, mengakui sebagai
ibunya dan menitipkannya pada ibu Meta.
Kali ini aku benar-benar tak bisa menahan
diri, jadi seharusnya aku yang ditemukan,
bukan Re. Seharusnya aku yang hidup
bahagia bukan Re. Seharusnya aku benar-
benar menjadi perempuan yang paling
beruntung itu. Bukan Re. BUKAN RE!!!!!!!
Kamu benar Re, kenyataan yang aku
dapat sangatlah menyakitkan. Seharusnya
aku tak perlu mengejar perempuan itu dan
menemukan kenyataan pahit seperti ini,
seharusnya aku tak perlu tahu masa
laluku, dan akhirnya menemukan alasan
kenapa aku harus dibuang ke panti asuhan
sangatlah keterlaluan. Dan orang yang
sangat keterlaluan itu ibumu Re, ibu dari
sahabatku, saudaraku, yang ternyata
perempuan simpanan ayahku yang ingin
membalas dendam.
Aku mengangkat wajahku, menatap
perempuan itu, ibumu. Ia menunduk,
wajahnya basah, ia menangis. Lamat aku
dengar suara Nyi Rohaya memanggilku,
"sudah waktunya pulang nak, berbaliklah,
segera, ayo jangan tunggu lagi, kamu
sudah terlalu lama, berbaliklah dan
pejamkan matamu!"
Suara itu bergema di telingaku, berulang-
ulang, makin lama makin cepat dan makin
mirip sebuah jeritan. Tapi amarah
menulikan telingaku, aku bangun dengan
cepat, berusaha meraih perempuan itu,
berusaha menarik pakaian ibumu, tapi ia
sepertinya sudah tahu apa yang akan aku
lakukan.
Ia menghindar, berlari, dan aku
mengejarnya, aku ingin mencekiknya,
membuatnya mati kehabisan napas,
membuatnya mati lagi dan lagi, karena
membuatnya mati dua kali pun tetap tak
akan membuatku puas karna sudah
membuatku menderita sebagai yatim piatu
selama 22 tahun. Mengecoh semua orang
sehingga yang ditemukan adalah Re
anaknya, bukan aku.
Aku terus mengejarnya, sesekali
pakaiannya hampir kuraih, membuatku
makin bersemangat mengejarnya. Tapi
kemudian terlepas hingga aku terus
mengejarnya. Dan lalu ia tiba-tiba berhenti
berlari. aku menabraknya, membuatnya
terjatuh.
"Kena kau, kali ini kamu akan merasakan
mati sekali lagi, dan akan kupastikan ini
lebih menyakitkan dari sebelumnya!" aku
mengumpat, menjambak rambutnya,
menamparnya, meludahinya, mencakar
wajahnya sekuat tenaga.
Ia tak melawan Re. Dia diam saja. Malahan
tersenyum seraya menghapus airmatanya,
airmataku dan mengusap rambutku yang
berantakan karna kelelahan berlari dan
seakan sadar usahaku untuk
membunuhnya adalah sia-sia.
"Tinggallah di sini nak, aku tahu kamu
sangat ingin bertemu denganku kan?
Selamanya, di hatimu, aku adalah ibumu,
bukan istri bajingan itu. Aku juga Ibumu
nak. Aku menyusuimu, menyanyikan lagu
agar kau tertidur lelap di pelukanku, aku
memandikanmu, memastikan kamu
kenyang, memastikan tidurmu nyenyak,
saat anakku sendiri sejak lahir
kutinggalkan di panti asuhan."
"Kamu perempuan iblis!" Caciku sambil
menepiskan tangannya.
"Itu juga yang diucapkan mamamu. Tapi
papamu selalu memanggilku 'Malaikat
Cinta' karena itu aku serahkan semuanya,
aku percayakan hidupku di tangannya.
Dan setelah tahu itu hanya tipu daya
darinya, aku memilih mati, karena hidup
yang aku impikan tak akan pernah bisa ia
wujudkan." Ia menatapku dengan lembut
Re. Aku mulai merasa bersalah karena
kasar pada ibumu.
"Tapi kenapa kamu harus menyakitiku?
Kenapa harus membuangku dan
membuatku menderita selama ini? "
"Tidak lagi, mulai hari ini aku akan
merawatmu, aku akan menyayangimu dan
menjadi Ibumu. Karena kamu pantas jadi
anakku, hanya kamu yang merindukan dan
mendoakanku setiap malam."
"Aku ga mau!" Aku berusaha mundur dan
melepaskan pelukan ibumu Re. "Jemput
saja anakmu. Aku mau kembali, aku akan
menikah dengan lelaki yang mencintaiku.
Aku akan punya orangtua. Hidupku akan
jauh lebih baik. Aku akan bahagia." aku
merasa suaraku cukup keras dan bisa
menghancurkan tempat itu jika saja terbuat
dari kaca, tapi sayangnya bukan..
"Terlambat."
Aku melihat ke arah di mana perempuan
itu menunjuk, di depan mataku, aku melihat
kamu Re, memeluk Reza, di pelaminan.
"Tidaaakkkkkkk! Tolooonggggg......!" Ini ga
mungkin, ini ga boleh terjadi, aku menjerit
histeris. Berharap Kamu, Reza, Mama,
Papa, Nyi Rohaya, Ibu Meta, siapapun bisa
mendengarku.
"Satu jam di sini adalah satu hari di dunia
nak, kamu sudah pergi terlalu lama. Sudah
terlambat. jasadmu pasti sudah
dikuburkan." Suara Ibumu membuat
tangisku makin menjadi.
Aku berbalik, tubuhku terasa lemas tak
mampu berlari membuatku berusaha
secepatnya berjalan menjauh dari ibumu,
memejamkan mataku berharap segera
terbangun di kerasnya dipan reot dari
rotan milik Nyi Rohaya. Di rumah
sederhana di pinggiran kali yang aku tak
tahu namanya. Aku berharap ini hanya
mimpi, mimpi seperti namaku Dremia. Tapi
aku merasa membentur sesuatu. rasa
penasaran membuatku membuka mata dan
kulihat jelas pintu tinggi berwarna merah
tertutup di depanku.
- It is (Maybe Still Not) THE END -

Lia,
08 Agustus 12
persembahan kecil untuk Peterpan.
http://lia3x.blogspot.com/2012/08/mengejar-rahasia.html

0 komentar:

Post a Comment

-- Silahkan berkomentar dengan baik & sopan
-- NO Spam, NO Unsur Sara
-- Komentar Anonim diperbolehkan

Don't forget bookmark this blog. . .

Popular Posts

Twitter Sahabat NOAH

 
Toggle Footer